Sabtu, 21 Mei 2016

Sejenak Mencicipi Keterasingan di Togean

Togean Island is the place to go if you want forget about emails, internet, and cell phone. These little jewels take a bit of an effort to get to, but will definitely reward you for getting there. A magical place, with amazing dive sites. – Lonely Planet.

Saya termasuk orang yang cukup impulsif dalam hal traveling. Meskipun sudah memiliki travel plan tahunan, seringkali saya bepergian ke tempat yang tidak terduga dan diluar rencana. Tiba-tiba sudah dalam pendakian ke gunung, atau menjelajah pulau, atau sekedar pergi mengasingkan diri keluar kota. Nah, sifat inilah yang juga akhirnya membawa saya ke Togean. Bukan. Ini bukan tentang sayuran itu. Mungkin sebagian masih asing dengan nama ini. Taman Nasional Kepulauan Togean, sebuah kepulauan di Indonesia, yang letaknya berada di tengah Pulau Sulawesi. Lagi-lagi Sulawesi, kenapa Sulawesi? Mungkin karena saya sedang jatuh cinta dengan tanah Celebes yang menawarkan lanskap alam yang eksotis ini.
Tidak banyak memang yang menjadikan Togean sebagai destinasi wisata karena jarak tempuh yang cukup jauh. It’s for travelers, not tourists, katanya. Kecuali bagi mereka yang benar-benar pelancong sejati, mungkin Togean bukanlah opsi yang menarik untuk disambangi. Meskipun begitu, kecantikan Kepulauan Togean sangat tidak boleh diremehkan. Sebuah surga tropis di lidah Sulawesi yang menyuguhkan suasana tenang dan romantis, jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota (ya, benar-benar jauh), dan sangat cocok untuk stress relieving.

Togean : Perjalanan Yang Jauh
Menuju ke Togean memakan waktu yang tidak sebentar, hampir 2 (dua) hari.  Saya awali dari Jakarta, dengan terlebih dahulu terbang ke Palu. Kemudian dilanjutkan dengan naik bus menuju Pelabuhan Ampana dengan waktu tempuh 11 jam. Waktu yang sangat lama jika dihabiskan dengan hanya duduk, tidur, makan, dan tidur lagi. Akan tetapi, sorry to say, memang cuma itu yang bisa dilakukan. Tidak banyak hal menarik yang saya temukan dalam perjalanan bus ke Ampana selain hutan dan jalanan yang agak rusak. Hal inilah yang membuat saya seketika goyah dan berpikir : “Duh, ini ngapain juga sih jauh-jauh main ke Togean. Jauh banget gini. Bosaaaan!”
Tetapi rasa itu lenyap seketika. Asa kembali muncul saat kapal-kapal feri mulai terlihat. Kapal feri itu yang mengantarkan saya dari Ampana menuju Wakai, Kepulauan Togean. Lagi-lagi saya harus menghadapi jarak tempuh yang tidak sebentar. Kurang lebih 5 (lima) jam waktu yang dibutuhkan untuk menyeberang ke Kepulauan Togean. Dan, akhirnya saya sampai di  Togean. Yeay!
Kepulauan Togean merupakan gugusan dari 60-an pulau yang melintang di tengah Teluk Tomini, dimana, kawasannya berada di zona transisi Garis Wallace dan Weber. Apa itu Garis Wallace dan Weber? Garis Wallace merupakan garis khayal yang memisahkan wilayah geografi flora dan fauna tipe Asiatis dan tipe Peralihan, sementara Garis Weber memisahkan wilayah flora dan fauna tipe Peralihan dan tipe Australis. Keragaman inilah yang menjadikan Togean sebagai Taman Nasional Kepulauan di tahun 2004.
Pulau-pulau di gugusan ini sudah cukup dikelola dengan baik. Ada sekitar 12 (dua belas) tempat penginapan yang tersebar di Kepulauan Togean. Ada Kadidiri Paradise Cottage dan Black Marlin di Pulau Kadidiri, Fadhila Cottage di Pulau Pangempa, Losmen Letari di Pulau Malenge, dan masih banyak lagi.


Poyalisa Yang Menawan
Saya menginap di Poyalisa. Letaknya di Pulau Bomba, kaki kepulauan Togean, kurang lebih 1,5 jam dari Wakai. Mencapai Poyalisa bisa dengan menggunakan kapal cepat dari Wakai. Penginapan di Poyalisa rata-rata hampir sama dengan penginapan di pulau-pulau sekitar Togean, berkisar antara Rp. 150.000 – Rp. 250.000 per orang/malam, termasuk 3x makan dan camilan sore. Meskipun tidak sepopuler Pulau Kadidiri, Poyalisa menyuguhkan keheningan alami. Mungkin karena jaraknya yang cukup jauh dari Wakai membuat para pelancong lebih memilih pulau sekitar yang lebih dekat. Kapan lagi berlibur ke Pulau yang bahkan namanya tidak terlacak di peta?
Setibanya di Poyalisa, hamparan pasir putih dan indahnya laut biru turquoise akan terus menemani. Tidak banyak aktivitas yang dilakukan, keseharian saya hanya disibukkan dengan leyeh-leyeh di hammock, berburu sunrise/sunset, menyelam, dan island hopping. Jangan khawatir dengan kebisingan dan polusi kendaraan motor/mobil, disini semua transportasi hanya difasilitasi dengan perahu. Di Poyalisa, mau tidak mau, harus terputus dari dunia digital karena tidak adanya sinyal telepon, dan terbatasnya pasokan listrik.
Percaya gak, keliling daratan Pulau Bomba hanya butuh waktu 5-10 menit. Pulau ini memang sangat kecil. Tetapi, dengan perahu sewaan, kita bisa mengunjungi pulau-pulau lain. Poyalisa menyewakan perahu sewaan dengan harga Rp. 300.000 – Rp. 400.000 untuk tur harian. Dengan tur ini, kita bisa island hopping sambil snorkeling/diving di spot-spot cantik, seperti di Pulau Taipi dan Pulau Una-Una.

Cantiknya Perairan Togean
Kabar baiknya, di Togean kita bisa berenang dengan ubur-ubur. Seperti Danau Kakaban di Derawan dan Danau Lenmakana di Misool, Togean juga memiliki stingless jellyfish lake. Di danau ini terdapat gerombolan ubur-ubur yang tidak menyengat. Menikmati pemandangan ini sambil snorkeling adalah pengalaman yang menakjubkan tanpa perlu takut sengatan racun.
Memang, biota laut di Togean sangat beragam. Selain ubur-ubur, Togean juga kaya akan karangnya yang warna-warni. Ada juga gerombolan Barakuda di titik penyelaman Appolo dan Pinnacle di Pulau Una-Una. Menyelam di Togean memang memiliki kesan tersendiri. Air lautnya yang cukup tenang dan jernih menjadikan kegiatan menyelam menjadi menyenangkan, meskipun hanya sekedar berenang atau snorkeling. Oh iya, jangan lupa untuk berkunjung ke Pantai Karina!

Togean Secara Keseluruhan
“It takes determination to get to Togean, and yes, it takes much more determination to leave.”
Perjalanan yang jauh dan ribet akan lunas dibayar dengan pengalaman yang mengesankan. Inilah kalimat yang tepat menggambarkan perjalanan ke Togean. Sekedar saran, apabila memang mau menjangkau Togean dari Jakarta, lebih baik lewat Gorontalo. Berbeda dengan Palu yang harus melewati jalur darat ke Ampana terlebih dahulu, dari Gorontalo justru bisa langsung menaiki kapal feri ke Wakai dengan waktu tempuh kurang lebih 12 jam. Jalur ini lebiih efisien, karena tidak terlalu banyak berpindah-pindah transportasi.

Berikut ada beberapa tips apabila hendak berlibur ke Togean :
  • Pastikan kamu siap fisik dan mental untuk menempuh perjalanan yang sangat jauh ini. Siapkan obat anti mabuk karena akan sangat berguna selama perjalanan. 
  • Pastikan kamu sudah memesan penginapan sebelum kamu berangkat, kecuali kalau kamu mau go show.
  • Biasanya tempat penginapan melayani antar-jemput ke Wakai, tempat kapalmu berlabuh setibanya di Togean. Untuk itu, kontaklah petugas penginapan sehari sebelum kedatanganmu untuk memastikan agar kamu dijemput.
  • Bawalah semua perlengkapan yang kamu butuhkan sebelum kamu tiba di Togean. Persediaan makanan dan obat-obatan, misalnya. Perlu diketahui, di Togean tidak ada toko/supermaket/warung sejenis. Setiap penginapan rata-rata hanya menyediakan 3x makan, camilan sore, dan kopi/teh.
  •  Berlibur dengan grup lebih disarankan guna meminimalisir pengeluaran. 5-6 orang cukup ideal untuk sharing cost selama trip.


“Traveling- it leaves you speechless, and turns you out into a storyteller” – Ibnu Battuta