Minggu, 02 Agustus 2015

Mencicipi Suasana Lokal di Benteng Selayar

Saya sungguh sangat benci penerbangan pertama. Bagi saya, penerbangan paling pagi itu sungguh sangat mengganggu stamina saya, karena tidur yang sangat kurang. Maklum saya seorang insomnia. Termasuk pagi ini, saya harus terbang ke Makassar  jam  2 pagi dari Bandara Soekarno Hatta. Ya, sepagi itu, karena harus mengejar penerbangan selanjutnya ke Selayar. Memang, penerbangan ke Selayar ini masih  sangat terbatas, hanya beroperasi  sekali sehari, pukul 8.55 pagi dari Bandara Hasanuddin Makassar. Kali ini saya pergi bersama 4 orang yang belum sama sekali saya kenal sebelumnya. Kami berlima sedang ditugaskan untuk membuat ulasan mengenai keindahan Indonesia Timur, untuk itulah kami disini. 

Mengunjungi Selayar memakan waktu sekitar 7-8 jam dari Kota Makassar lewat jalur darat. Tapi kali ini, saya hanya menempuh kurang dari 25 menit via udara. Wow. Ini kali pertama saya naik pesawat dengan jangka waktu sesingkat ini. Tiba di Selayar, saya langsung diantar guide menuju penginapan. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi dan saya sudah siap dengan 'senjata' andalan saya. Celana pendek warna khaki, kaos oblong, topi, tas kecil, dan kamera tentunya. Kali ini saya hanya membawa Go Pro Hero 4, Fujifilm X-1, dan kamera ponsel Iphone. Cukuplah untuk memotret semua keindahan Selayar ini, pikir saya.

Benteng, sebagai ibukota Kepulauan Selayar, masih jauh dari kata modern. Sangat sederhana, tapi inilah uniknya. Memiliki luas sekitar 10.000 km2, kota ini cukup tenang, tidak banyak 'aksesoris'. Tidak banyak sepeda motor dan mobil berlalu lalang disini, karena mungkin berkeliling kota Benteng hanya butuh jalan kaki, atau bersepeda. Sejenak saya mampir ke Pasar Rakyat Benteng. Ini letaknya di pusat Kota Benteng, tepat disamping Lapangan Rakyat. Sungguh sangat mudah menemukan pasar ini, tetapi pastikan kita mengunjungi pasar ini di waktu yang tepat. Karena kalau tidak, mungkin kita hanya menemukan tenda-tenda kosong tanpa penjual. Pasar ini hanya beroperasi mulai jam 7 pagi hingga 12 siang setiap harinya. Suasana pasar kali ini tidak terlalu ramai namun menyenangkan. Mungkin sebagian orang bertanya-tanya untuk apa jauh-jauh bepergian kalau cuma mengunjungi pasar. Tetapi inilah kuncian saya setiap bepergian, living like local. Sungguh kemanapun saya pergi, saya sangat risih bila dijuluki seorang turis. Menurut saya, sebutan traveler lebih ramah di telinga. Sementara turis sibuk dengan paket perjalanan yang lengkap dan cenderung berkelas, traveler lebih fleksibel dalam menikmati perjalanannya yang sederhana namun tetap menarik.

Pasar Rakyat Benteng, sebuah pasar tradisional di Kepulauan Selayar

Itulah juga yang terjadi di pasar ini, saat beberapa anak kecil sibuk berbisik-bisik membicarakan kehadiran kami.

“Eh, nia turis rinni”, seru salah seorang anak kepada teman-temannya.

Teman-teman saya yang belum mengerti bahasa mereka hanya saling melempar pandang sambil mengernyitkan dahi. Saya hanya tersenyum dan menghampiri segerombolan anak kecil itu.

“Weh, bukan dek. Hehe!”

Mereka lalu terkekeh dengan jawaban saya. Setali tiga uang dengan teman-teman saya. Mereka  heran dengan logat saya yang mampu menyesuaikan dengan bahasa Makassar Selayar.

“Saya cuma polyglot wanna be, tidak fasih betul kok, masih patah-patah”, sahut saya saat ditanya mengenai kemampuan bahasa yang saya miliki. Ada keseruan tersendiri bagi saya dalam menyimak dan mempelajari bahasa dan kebudayaan setempat dimanapun saya bepergian.

“Oooh, seru juga yah.”

Yeay. Senang rasanya bisa menginspirasi. J