Kamis, 09 Februari 2017

PWK banget (?)



Pwk, atau Purwakarta. Ada apa sih disana?

Saya jadi ingat dulu ayah saya pernah mengiming-imingi saya untuk jalan-jalan eksplore Purwakarta. Kata beliau, di Purwakarta kita bisa melihat kumpulan lokomotif dari berbagai KRL yang sudah tidak terpakai. Selain itu, beliau juga bilang begini : "nanti kapan-kapan kita pergi manjat ya di Purwakarta!"
Saat itu, saya mikir, emang ada gunung di Purwakarta? Di sebelah mananya? Ini Purwakarta yang sering dilintasi kalau ke Bandung kan? kayaknya gak ada apa-apa disitu..
Ternyata saya salah, haha. 

Hasil pencarian saya di Google, kota ini luasnya cuma 970-an km2 kok. But, things you have to know is, di kota sekecil ini, much things you can explore. Kontur alamnya yang berada di dataran tinggi membuat kita bisa banya mengeksplor pegunungannya. Let's say hiking di Gunung Lembu, camping di Gunung Bongkok yang bisa bikin kita ber-wow-wow ria ketika melihat night scenery dari puncaknya. Atau kalau mau yang lebih ekstrim bisa mencoba aktivitas rock climbing di Gunung Parang. Eits, gak perlu 'jiper' gitu. Pegunungan di daerah ini gak terlalu tinggi kok, rata-rata 1000-an meter di atas permukaan laut, jadi masih tergolong easy track.

Berbekal iming-iming ayah saya itu (yang bahkan gak kesampaian jalan bareng sampai sekarang), saya akhirnya mulai mencari tahu sendiri. Many thanks to Kevin Systrom and Mike Krieger fo founding Instagram, it helps a lot.

Alih-alih travel solo, akhirnya saya justru pergi dengan kedua teman saya. It only takes around 2 hours driving to there from Jakarta, i mean from Entrance Toll Gate Bekasi Barat. Lol.

Gak banyak yang saya rencanakan untuk eksplor Purwakarta, paling 1-2 hari perjalanan. Main point saya adalah main ke locomotive point, lalu ke bendungan Jatiluhur, dan malamnya leyeh-leyeh nonton air mancur di taman.

Purwakarta, meskipun kecil begini, banyak tempat yang iconic, lho.3 diantaranya ya itu tadi yang saya sebutkan barusan. Kalau memang berniat untuk rock-climbing di Gunung Parang, better berangkat lebih pagi dari Jakarta untuk mengantisipasi cuaca.

When you arrive there, you'll be surprised!







Sabtu, 21 Mei 2016

Sejenak Mencicipi Keterasingan di Togean

Togean Island is the place to go if you want forget about emails, internet, and cell phone. These little jewels take a bit of an effort to get to, but will definitely reward you for getting there. A magical place, with amazing dive sites. – Lonely Planet.

Saya termasuk orang yang cukup impulsif dalam hal traveling. Meskipun sudah memiliki travel plan tahunan, seringkali saya bepergian ke tempat yang tidak terduga dan diluar rencana. Tiba-tiba sudah dalam pendakian ke gunung, atau menjelajah pulau, atau sekedar pergi mengasingkan diri keluar kota. Nah, sifat inilah yang juga akhirnya membawa saya ke Togean. Bukan. Ini bukan tentang sayuran itu. Mungkin sebagian masih asing dengan nama ini. Taman Nasional Kepulauan Togean, sebuah kepulauan di Indonesia, yang letaknya berada di tengah Pulau Sulawesi. Lagi-lagi Sulawesi, kenapa Sulawesi? Mungkin karena saya sedang jatuh cinta dengan tanah Celebes yang menawarkan lanskap alam yang eksotis ini.
Tidak banyak memang yang menjadikan Togean sebagai destinasi wisata karena jarak tempuh yang cukup jauh. It’s for travelers, not tourists, katanya. Kecuali bagi mereka yang benar-benar pelancong sejati, mungkin Togean bukanlah opsi yang menarik untuk disambangi. Meskipun begitu, kecantikan Kepulauan Togean sangat tidak boleh diremehkan. Sebuah surga tropis di lidah Sulawesi yang menyuguhkan suasana tenang dan romantis, jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota (ya, benar-benar jauh), dan sangat cocok untuk stress relieving.

Togean : Perjalanan Yang Jauh
Menuju ke Togean memakan waktu yang tidak sebentar, hampir 2 (dua) hari.  Saya awali dari Jakarta, dengan terlebih dahulu terbang ke Palu. Kemudian dilanjutkan dengan naik bus menuju Pelabuhan Ampana dengan waktu tempuh 11 jam. Waktu yang sangat lama jika dihabiskan dengan hanya duduk, tidur, makan, dan tidur lagi. Akan tetapi, sorry to say, memang cuma itu yang bisa dilakukan. Tidak banyak hal menarik yang saya temukan dalam perjalanan bus ke Ampana selain hutan dan jalanan yang agak rusak. Hal inilah yang membuat saya seketika goyah dan berpikir : “Duh, ini ngapain juga sih jauh-jauh main ke Togean. Jauh banget gini. Bosaaaan!”
Tetapi rasa itu lenyap seketika. Asa kembali muncul saat kapal-kapal feri mulai terlihat. Kapal feri itu yang mengantarkan saya dari Ampana menuju Wakai, Kepulauan Togean. Lagi-lagi saya harus menghadapi jarak tempuh yang tidak sebentar. Kurang lebih 5 (lima) jam waktu yang dibutuhkan untuk menyeberang ke Kepulauan Togean. Dan, akhirnya saya sampai di  Togean. Yeay!
Kepulauan Togean merupakan gugusan dari 60-an pulau yang melintang di tengah Teluk Tomini, dimana, kawasannya berada di zona transisi Garis Wallace dan Weber. Apa itu Garis Wallace dan Weber? Garis Wallace merupakan garis khayal yang memisahkan wilayah geografi flora dan fauna tipe Asiatis dan tipe Peralihan, sementara Garis Weber memisahkan wilayah flora dan fauna tipe Peralihan dan tipe Australis. Keragaman inilah yang menjadikan Togean sebagai Taman Nasional Kepulauan di tahun 2004.
Pulau-pulau di gugusan ini sudah cukup dikelola dengan baik. Ada sekitar 12 (dua belas) tempat penginapan yang tersebar di Kepulauan Togean. Ada Kadidiri Paradise Cottage dan Black Marlin di Pulau Kadidiri, Fadhila Cottage di Pulau Pangempa, Losmen Letari di Pulau Malenge, dan masih banyak lagi.


Poyalisa Yang Menawan
Saya menginap di Poyalisa. Letaknya di Pulau Bomba, kaki kepulauan Togean, kurang lebih 1,5 jam dari Wakai. Mencapai Poyalisa bisa dengan menggunakan kapal cepat dari Wakai. Penginapan di Poyalisa rata-rata hampir sama dengan penginapan di pulau-pulau sekitar Togean, berkisar antara Rp. 150.000 – Rp. 250.000 per orang/malam, termasuk 3x makan dan camilan sore. Meskipun tidak sepopuler Pulau Kadidiri, Poyalisa menyuguhkan keheningan alami. Mungkin karena jaraknya yang cukup jauh dari Wakai membuat para pelancong lebih memilih pulau sekitar yang lebih dekat. Kapan lagi berlibur ke Pulau yang bahkan namanya tidak terlacak di peta?
Setibanya di Poyalisa, hamparan pasir putih dan indahnya laut biru turquoise akan terus menemani. Tidak banyak aktivitas yang dilakukan, keseharian saya hanya disibukkan dengan leyeh-leyeh di hammock, berburu sunrise/sunset, menyelam, dan island hopping. Jangan khawatir dengan kebisingan dan polusi kendaraan motor/mobil, disini semua transportasi hanya difasilitasi dengan perahu. Di Poyalisa, mau tidak mau, harus terputus dari dunia digital karena tidak adanya sinyal telepon, dan terbatasnya pasokan listrik.
Percaya gak, keliling daratan Pulau Bomba hanya butuh waktu 5-10 menit. Pulau ini memang sangat kecil. Tetapi, dengan perahu sewaan, kita bisa mengunjungi pulau-pulau lain. Poyalisa menyewakan perahu sewaan dengan harga Rp. 300.000 – Rp. 400.000 untuk tur harian. Dengan tur ini, kita bisa island hopping sambil snorkeling/diving di spot-spot cantik, seperti di Pulau Taipi dan Pulau Una-Una.

Cantiknya Perairan Togean
Kabar baiknya, di Togean kita bisa berenang dengan ubur-ubur. Seperti Danau Kakaban di Derawan dan Danau Lenmakana di Misool, Togean juga memiliki stingless jellyfish lake. Di danau ini terdapat gerombolan ubur-ubur yang tidak menyengat. Menikmati pemandangan ini sambil snorkeling adalah pengalaman yang menakjubkan tanpa perlu takut sengatan racun.
Memang, biota laut di Togean sangat beragam. Selain ubur-ubur, Togean juga kaya akan karangnya yang warna-warni. Ada juga gerombolan Barakuda di titik penyelaman Appolo dan Pinnacle di Pulau Una-Una. Menyelam di Togean memang memiliki kesan tersendiri. Air lautnya yang cukup tenang dan jernih menjadikan kegiatan menyelam menjadi menyenangkan, meskipun hanya sekedar berenang atau snorkeling. Oh iya, jangan lupa untuk berkunjung ke Pantai Karina!

Togean Secara Keseluruhan
“It takes determination to get to Togean, and yes, it takes much more determination to leave.”
Perjalanan yang jauh dan ribet akan lunas dibayar dengan pengalaman yang mengesankan. Inilah kalimat yang tepat menggambarkan perjalanan ke Togean. Sekedar saran, apabila memang mau menjangkau Togean dari Jakarta, lebih baik lewat Gorontalo. Berbeda dengan Palu yang harus melewati jalur darat ke Ampana terlebih dahulu, dari Gorontalo justru bisa langsung menaiki kapal feri ke Wakai dengan waktu tempuh kurang lebih 12 jam. Jalur ini lebiih efisien, karena tidak terlalu banyak berpindah-pindah transportasi.

Berikut ada beberapa tips apabila hendak berlibur ke Togean :
  • Pastikan kamu siap fisik dan mental untuk menempuh perjalanan yang sangat jauh ini. Siapkan obat anti mabuk karena akan sangat berguna selama perjalanan. 
  • Pastikan kamu sudah memesan penginapan sebelum kamu berangkat, kecuali kalau kamu mau go show.
  • Biasanya tempat penginapan melayani antar-jemput ke Wakai, tempat kapalmu berlabuh setibanya di Togean. Untuk itu, kontaklah petugas penginapan sehari sebelum kedatanganmu untuk memastikan agar kamu dijemput.
  • Bawalah semua perlengkapan yang kamu butuhkan sebelum kamu tiba di Togean. Persediaan makanan dan obat-obatan, misalnya. Perlu diketahui, di Togean tidak ada toko/supermaket/warung sejenis. Setiap penginapan rata-rata hanya menyediakan 3x makan, camilan sore, dan kopi/teh.
  •  Berlibur dengan grup lebih disarankan guna meminimalisir pengeluaran. 5-6 orang cukup ideal untuk sharing cost selama trip.


“Traveling- it leaves you speechless, and turns you out into a storyteller” – Ibnu Battuta




Minggu, 02 Agustus 2015

Mencicipi Suasana Lokal di Benteng Selayar

Saya sungguh sangat benci penerbangan pertama. Bagi saya, penerbangan paling pagi itu sungguh sangat mengganggu stamina saya, karena tidur yang sangat kurang. Maklum saya seorang insomnia. Termasuk pagi ini, saya harus terbang ke Makassar  jam  2 pagi dari Bandara Soekarno Hatta. Ya, sepagi itu, karena harus mengejar penerbangan selanjutnya ke Selayar. Memang, penerbangan ke Selayar ini masih  sangat terbatas, hanya beroperasi  sekali sehari, pukul 8.55 pagi dari Bandara Hasanuddin Makassar. Kali ini saya pergi bersama 4 orang yang belum sama sekali saya kenal sebelumnya. Kami berlima sedang ditugaskan untuk membuat ulasan mengenai keindahan Indonesia Timur, untuk itulah kami disini. 

Mengunjungi Selayar memakan waktu sekitar 7-8 jam dari Kota Makassar lewat jalur darat. Tapi kali ini, saya hanya menempuh kurang dari 25 menit via udara. Wow. Ini kali pertama saya naik pesawat dengan jangka waktu sesingkat ini. Tiba di Selayar, saya langsung diantar guide menuju penginapan. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi dan saya sudah siap dengan 'senjata' andalan saya. Celana pendek warna khaki, kaos oblong, topi, tas kecil, dan kamera tentunya. Kali ini saya hanya membawa Go Pro Hero 4, Fujifilm X-1, dan kamera ponsel Iphone. Cukuplah untuk memotret semua keindahan Selayar ini, pikir saya.

Benteng, sebagai ibukota Kepulauan Selayar, masih jauh dari kata modern. Sangat sederhana, tapi inilah uniknya. Memiliki luas sekitar 10.000 km2, kota ini cukup tenang, tidak banyak 'aksesoris'. Tidak banyak sepeda motor dan mobil berlalu lalang disini, karena mungkin berkeliling kota Benteng hanya butuh jalan kaki, atau bersepeda. Sejenak saya mampir ke Pasar Rakyat Benteng. Ini letaknya di pusat Kota Benteng, tepat disamping Lapangan Rakyat. Sungguh sangat mudah menemukan pasar ini, tetapi pastikan kita mengunjungi pasar ini di waktu yang tepat. Karena kalau tidak, mungkin kita hanya menemukan tenda-tenda kosong tanpa penjual. Pasar ini hanya beroperasi mulai jam 7 pagi hingga 12 siang setiap harinya. Suasana pasar kali ini tidak terlalu ramai namun menyenangkan. Mungkin sebagian orang bertanya-tanya untuk apa jauh-jauh bepergian kalau cuma mengunjungi pasar. Tetapi inilah kuncian saya setiap bepergian, living like local. Sungguh kemanapun saya pergi, saya sangat risih bila dijuluki seorang turis. Menurut saya, sebutan traveler lebih ramah di telinga. Sementara turis sibuk dengan paket perjalanan yang lengkap dan cenderung berkelas, traveler lebih fleksibel dalam menikmati perjalanannya yang sederhana namun tetap menarik.

Pasar Rakyat Benteng, sebuah pasar tradisional di Kepulauan Selayar

Itulah juga yang terjadi di pasar ini, saat beberapa anak kecil sibuk berbisik-bisik membicarakan kehadiran kami.

“Eh, nia turis rinni”, seru salah seorang anak kepada teman-temannya.

Teman-teman saya yang belum mengerti bahasa mereka hanya saling melempar pandang sambil mengernyitkan dahi. Saya hanya tersenyum dan menghampiri segerombolan anak kecil itu.

“Weh, bukan dek. Hehe!”

Mereka lalu terkekeh dengan jawaban saya. Setali tiga uang dengan teman-teman saya. Mereka  heran dengan logat saya yang mampu menyesuaikan dengan bahasa Makassar Selayar.

“Saya cuma polyglot wanna be, tidak fasih betul kok, masih patah-patah”, sahut saya saat ditanya mengenai kemampuan bahasa yang saya miliki. Ada keseruan tersendiri bagi saya dalam menyimak dan mempelajari bahasa dan kebudayaan setempat dimanapun saya bepergian.

“Oooh, seru juga yah.”

Yeay. Senang rasanya bisa menginspirasi. J




Kamis, 28 Mei 2015

Kemana weekend ini?

Halo pekerja kantoran! Berapa sih jatah cuti kalian setahun? 12 hari? 15 hari? 18 hari? Apa kalian merasa cukup dengan waktu yang diberikan tersebut? Eits, jangan bersedih! Beruntunglah kita sekalian yang tinggal di Indonesia, karena di tahun 2015 ini banyak sekali long weekend yang disebabkan oleh hari libur nasional di hari Kamis atau Jumat. Nah, ini adalah kabar gembira buat para pecinta traveling, bukan? Kalian bisa menambah extra destinasi tahunan tanpa harus takut sama jatah cuti yang sangat terbatas itu.

Sebagai pekerja kantoran yang jam kerjanya melampaui jam kerja normal, saya merasa hari libur itu perlu. Tumpukan kerjaan yang tak kunjung usai, report yang tak kunjung beres, belum ditambah revisi ini itu, belum lagi kerjaan perintilan lainnya, ini itu, a b c d, bikin saya terlalu bersemangat menyambut hari libur, terlebih long weekend. Long weekend saya tidak melulu harus bepergian ke tempat jauh sih, pokoknya menyesuaikan budget lah. Buat kalian yang bingung bagaimana cara menghadapi long weekend, berikut saya share beberapa hal yang mudah-mudahan bikin kamu anti bete. :)


1. Berwisata museum
Buat kalian yang tinggal di Jakarta, bersyukurlah karena banyak sekali museum-museum di Jakarta yang bisa kalian kunjungi. Selain bisa menyegarkan kembali ingatan pelajaran sejarah waktu di bangku sekolah dulu, museum-museum ini pun menarik loh untuk dijadikan tempat hunting foto, sangat instagram-able kalau kata anak sekarang. Let me mention names, ada Museum Nasional (atau juga sering disebut Museum Gajah), Museum Indonesia di Komplek TMII, jejeran museum di daerah Kota Tua, dan masih banyak lagi. Tapi, hey, tidak hanya di Jakarta loh, sebagai wilayah yang memiliki sejarah yang kental, hampir di setiap daerah pasti memiliki museum. Ini tempat yang cocok buat kamu yang butuh hiburan, sekaligus pengetahuan.


2. Camping/Hammocking
Camping? Dimana? Jakarta mana ada space.
Pasti banyak dari kamu yang berpikir seperti ini. Iya kan? Betul sih, kalau camping di wilayah Jakarta memang aneh. Saya juga gak menganjurkan. Tetapi jangan khawatir, di pinggiran Jakarta, masih banyak lahan wisata yang bisa dijadikan campground. Misalnya, dengan berkendara ke Bogor kamu akan banyak menemukan wisata alam yang bisa dijadikan tempat camping, seperti di Gn. Pancar dan Cibodas. Atau di Kawasan Situ Gunung. Kamu juga bisa menyebrang ke Kepulauan Seribu. Disana banyak sekali pulau, mulai dari yang berpenghuni, sampai pulau kosong, yang bisa kamu gunakan untuk camping bersama teman-teman. Yang penting, dimanapun itu, jangan lupa untuk jaga kebersihan lingkunganmu ya!


3. Mendaki/Hiking
Ini nih, yang sekarang lagi digandrungi anak muda jaman sekarang. Pendakian. Kamu tinggal di Jakarta, tapi gak tau mau mendaki kemana? Buanyaaak sekali tempat yang bisa kamu eksplor, meskipun kamu cuma punya waktu saat weekend. Sebut saja Gunung Batu di Jonggol, Gunung Gede dan/atau Gunung Pangrango di Bogor, Stone Garden di Padalarang, dan beberapa gunung-gunung kecil di Bandung. Mendaki, selain bisa menyegarkan pikiran sejenak dari riwetnya aktivitas metropolitan, ini juga bisa menjadi wadah untuk melatih stamina kita. Tetapi, jangan pernah sekalipun main-main dengan kegiatan ini yah, karena bagaimanapun ini kegiatan pendakian itu adalah cukup ekstrim, apalagi bagi mereka yang pemula. Kamu harus benar-benar memiliki persiapan yang cukup untuk melakukan pendakian. Latihan fisik sebelum mendaki, atribut pendakian, pengetahuan tentang medan pendakian, adalah beberapa hal penting yang harus diperhatikan. Ingat, safety first!


4. Ikut kelas kesenian
Kelas kesenian? Contohnya?
Iya, kelas kesenian. Contohnya? Banyak banget. Sekarang ini sudah banyak sekali anak muda Jakarta yang memfasilitasi mereka-mereka yang ingin belajar seni. Mulai dari seni fotografi, seni merajut, seni memasak, seni melukis, dan masih banyak lagi. Para profesional ini biasanya membuka kelas belajar di weekend. Ada yang one-day-class, ada juga kelas reguler yang diadakan setiap minggu. Buat kamu pengguna Instagram, kamu buka deh @maubelajarapa. Disitu banyak banget kelas-kelasnya. Enjoy!


Gimana? Udah cukup terbuka pikirannya? Sebenernya masih banyak lagi kegiatan yang bisa dilakukan di weekend, kalau kamu mau tambahkan, monggo. 

Mari habiskan weekendmu sekreatif mungkin dengan eksplor Jakartamu. Be happy human being! :)

Selasa, 12 Mei 2015

Kuala Lumpur #1

Hari ini tanggal 11 April, saya siap memulai perjalanan yang cukup panjang ini, meskipun semua harus berawal dari ujian Corporate Government di kampus UI Depok. Saya, yang sebelumnya telah mengajukan diri untuk ujian di jam 16.30, malah datang jam 17.00, maka jadilah saya hanya punya sisa waktu 30 menit lebih sedikit dari yang telah saya rencanakan. Begitu baca soalnya, jengjeng, gak susah sih, tapi jawabannya panjang banget. Selesailah ujian saya itu di jam 18.30. Setelah perjalanan panjang menuju bandara, yang saya hampir gugup dibuatnya. Bayangin aja, flight jam 9 malam, jam 8.15 masih ada di tengah-tengah macetnya Gatot Subroto. Panik euy, panik, malah bikin kebelet pipis. Bapak supir taksi yang nyetirin saya juga ikutan panik bawa mobilnya. Tapi akhirnya, sampai juga di Terminal 2D Soekarno Hatta jam 9 kurang 20. Mepet banget, asli!

Menuju Kuala Lumpur, kali ini saya pakai si Singa Udara. Lumayan murah, 350 ribu. Sebenernya saya udah pesen tiket untuk tanggal 9 April seharga 98 ribu, tapi apa daya, saya ada keperluan di tanggal tersebut, jadi jadwal trip saya undur 2 hari. Anyway, saya tiba di KLIA udah malem banget, sekita jam 12 malam waktu Kuala Lumpur. Ngurus bagasi dan sebagainya, selesailah saya jam 1 pagi. Bingung mau kemana, karena temen saya yang saya kenal dari CS, enggak ngasih kabar bakal jemput saya ke bandara atau engga. Pun, saya gak punya pulsa buat sms apalagi telfon. Jadilah saya memutuskan untuk tidur di bandara sampe pagi. Eeh, baru setengah jam tidur, do'i nelfon ngasih tau saya kalau daritadi dia nungguin saya di apartemennya. Preeeet, mana gue tau! Baiklah, langsung aja saya cus dari bandara menuju KL Sentral via KLIA Transit. Dari KL Sentral, saya naik MRT menuju University Station, karena dia akan jemput saya disitu. Saya akui (dalam hati) memang transportasi di Malaysia tidak semurah di Jakarta. Namun begitu, mereka memang menyediakan fasilitas yang sebanding dengan harganya. Untuk KLIA Transit dari bandara KLIA menuju KL Sentral, saya harus membayar 12,5 RM. Sementara dari KL Sentral menuju University, saya harus membayar 2,2 RM.

Holla, years ago.

Rasanya sudah teramat lama saya tidak membagikan cerita di laman ini. Mungkin karena sudah terlalu banyak media sosial yang dengan instan nya menampung segala postingan secara real time, sehingga wadah blog ini menjadi sedikit terlupakan. Kalau dilihat-lihat, postingan terakhir saya di blog ini adalah sekita tahun 2013, kurang lebih 2 tahun lalu. Sudah terlalu lama sekali. Terlalu banyak perjalanan yang terjadi di selama kurun waktu tersebut. Tetapi, saya sudah memetakannya kok, jadi saya akan mulai cicil satu persatu ya. Dalam kurang lebih 2 tahun ini, saya cukup banyak mengalami perjalanan, baik itu di dalam kota, luar kota, atau bahkan luar negeri. Mulai dari plesiran yang disengaja, yang impulsif, bahkan yang urusan pekerjaan. Memang sih destinasi nya tidak seberapa jauh dan tidak seberapa kece dibandingan dengan para traveler yang sudah pro. Tetapi, cukup banyak saya memaknai setiap perjalanan yang saya alami. 

Dari dulu hingga detik ini, saya selalu berharap bahwa suatu hari saya bisa menjadi duta pariwisata atau duta budaya. Alasannya simpel, karena saya sebenarnya ingin belajar. Ingin banyak tahu mengenai pariwisata dan budaya, baik di Indonesia, maupun di dunia. Pariwisata, bukan hanya tentang destinasi wajib para pelancong atau hal-hal permukaan lainnya, tetapi saya ingin mendalami kehidupan lokal, yang mungkin sering terlupakan oleh para wisatawan. Saya berharap bisa mencetak rekor hidup di pedalaman ujung Indonesia, menyelam di Kepulauan Bahama, summit di Himalaya, dan menciptakan suatu inovasi yang nantinya bisa digunakan oleh generasi-generasi setelah saya. Iya, rekor yang bukan untu diterbitkan di MURI atau diakui oleh khalayak ramai, tapi lebih kepada rekor/pencapaian hidup saya pribadi. 


Saya mencintai setiap tempat baru, sekalipun itu diluar negeri. Buat saya, tidak ada bedanya, karena semua tempat itu punya keunikan sendiri untuk dieksplor. Sebagian orang ada yang anti melancong keluar negeri, karena anggapannya Indonesia masih terlalu grande untuk diabaikan. Betul sih, tetapi tidak buat saya, hehe. Prinsip saya, selagi ada kesempatan, kemanapun itu, saya siap eksplor. :)

Seperti Trinity dengn The Naked Traveler-nya, Riyani Djangkaru dengan #SaveSharks nya, Nomadic Matt dengan Nomad Traveler-nya, saya dengan #travel2share nya. Suatu hari nanti.. :)

Selasa, 12 Maret 2013

Missing waves ; Escapism





And, when sun almost sets, they still happy doing their things. Lying on white sands, enjoying the waves, talking with others, building a sand-castle, sharing love. Me? I just found myself here on another earth, miles away from my home.. Reaching another home called peace, i feel the warmth. What an escape!


Turnamen Foto Perjalanan 16 : Escapism